Sehari Kenyang di Bogor! :D

Perhatian, perhatian! Postingan kali ini panjang sekali dan bisa bikin kamu lapar, jadi waspadalah yaaa! 🙂

Sudah ribuan kali rasanya, saya mengungkapkan keinginan untuk berkunjung ke Bogor. Tapi, baru beberapa hari setelah merayakan ulang tahun, saya dan patjar berkunjung ke kota hujan itu.

Kami berangkat pagi-pagi sekitar jam 8. Naik bis Transjakarta ke Cawang dan kami pun melaju dengan kereta commuter line menuju Bogor. Tujuan utama adalah indehoy wisata kuliner.

Terima kasih pada kecanggihan mbah Google sehingga setelah browsing sana-sini, menetapkan makanan apa saja yang mau dicoba, saya puas mengelilingi Bogor. Dan tentu saja, tak perlu banyak bertanya soal arah atau lokasi karena ada Google Maps di ponsel pintar si patjar. Dalam daftar, ada macaroni panggang, pizza meteran, apple pie, dan coklat dari Death by Chocolate yang ingin kami nikmati.

Kami tiba sekitar pukul 10.30. Belum ada tanda-tanda hujan tapi Bogor memang terasa sejuk. Tempat pertama yang kami kunjungi Jalan Salak. Menurut info yang saya dapat dari Google, di jalan itu ada macaroni panggang yang enak. Namun, saya salah tempat sepertinya. Tadinya mau ke tempat ini, tapi karena duluan ketemu Salak Schotel Huis Resto, ya jadinya dadahdadah sama MP deh. Menyesal? Pastinya, tidak. Karena macaroni panggang yang kami pesan di sini juga enaknya bukan main. Saya pesan Macaroni Schotel Italiano yang di dalamnya ada Smoked Beef (daging sapi asap), Minced Beef (daging giling), Sausages (sosis sapi), Edam Cheese (keju tua), Cheddar Cheese (keju), Cream Cheese (saus keju), UHT Milk (susu cair). Kejunya terasa banget. Makanan ini cocok sekali disantap dengan udara Bogor yang dingin karena disajikan hangat. Oiya, harga satu porsi macaroni ini cukup mahal sih kalau kata saya, yaitu 39 ribu rupiah. 😀

yummy macaroni schotel :-9

 Salak Schotel Huis Resto

Lokasi: Jalan Salak no. 30 Bogor

Jam buka: Senin – Jumat 10.00 – 21.00; Sabtu 10.00-22.00; Minggu 10.00-21.00

Perut kenyang dan hati pun senang. Ya, benar sekali. Walaupun satu porsi macaroni itu dilahap oleh kami berdua, ternyata tetap mengenyangkan. Tadinya mau langsung menikmati Pia Apple yang terkenal itu, tapi sayang perut berkata lain. Akhirnya kami jalan kaki dari Jalan Salak menuju Jalan Pangrango. Dekat sekali ternyata, pemirsah. Tapi, jalanan kota Bogor sepertinya tidak bersahabat dengan pejalan kaki. Jarang sekali ada trotoar yang layak injak alias nyaman untuk pejalan kaki. Jalanan di Bogor yang kecil sepertinya tidak memerhatikan kenyamanan pejalan kaki. Sayang sekali, padahal Bogor termasuk kota kecil dan dengan rute angkot yang “beda” (beda rute pergi dengan rute pulang), jalan kaki pasti sangat sering dilakukan. Nah loh, curhat deh.

Baca lebih lanjut

Liburan Geng Baru :D

Halo, pemirsah!
Sama seperti kalian, saya juga kangen dengan hal-hal yang berbau “baru” di blog ini. Kabar baik, saya sudah lulus dan diwisuda dan belom merevisi skripsi saya yang tersohor itu. Halah. Kabar yang hampir baik. saya masih menunggu panggilan dari ******** supaya segala hal yang membosankan bernama pengangguran ini usai sudah.

Anyhoo, saya punya geng baru. Ceile. Hari gini masih bikin geng ajah. Nggak geng gong gimana yang serius dan penuh komitmen ala anak SMP-SMA gitu sih. Hanya enam orang dari SMA yang sama, terdampar di pulau Jawa. Selain saya, yang lain sudah bekerja dan menafkahi dirinya sendiri. *sama2 teriak “Alhamdulilah yah”* 😀

Libur lebaran kemarin, untuk me-launching geng yang diberi nama Geng Unyu Hura-Hura, kami berenam yang unyu-unyu ini melangsungkan liburan bersama ke Pangandaran. Berikut foto-foto unyu kami. Silakan dinikmati! \(^0^)/

@ green canyon

@rentalisa (aka Morentalisa)

@Fx_Felix (aka Felix Tambunan

the owner of DSLR (aka Ganda Marojahan Aruan)

@namakunatan (aka Natanail Jerry Kereh)

@roniokto dan @selaluTINA (aka Roni dan Tina)

Bagi pemirsah yang belum pernah ke Pangandaran, bisa saya informasikan, banyak sekali lokasi wisata di Pangandaran. Selain snorkeling di Pasir Putih, kita juga bisa mengunjungi tempat wisata lain yang jaraknya sekitar 30-90 KM dari Pangandaran. Batu Hiu, lokasi wisata yang cocok untuk foto-foto, karena pantainya mirip pantai-pantai di Bali. Tapi tak bisa berenang di pantai Batu Hiu karena ombaknya dahsyat. Lalu ada Batu Karas, pantai yang dipenuhi bule. Di Batu Karas, kita bisa berenang, surfing, dan naik banana/donut boat. Dan tentu saja, menurut saya, yang paling menarik ya Green Canyon. Sungainya adem, naik perahunya bener-bener berasa refreshing, dan loncat dari ketinggian 100M (eh lebaaayy) itu “sesuatu banget” yaaa. Saya bahkan loncat DUA KALI. Meski butuh waktu 15 menit untuk tiap lompatan. 😀

Sekian dan terima kasih ya, pemirsah! Mohon doanya supaya cinta eh, lamaran saya diterima di perusahaan terkemuka itu. *jilat-jilat* 🙂

Akhirnya Kumenemukanmu

Perempuan itu tak pernah menyetujui perjalanan yang impulsif. Tiba-tiba dan tanpa persiapan matang. Seperti bukan dirinya. Perjalanannya selalu sangat terencana. Hingga detil yang tidak begitu orang lain perhatikan. Tapi ketika ia utarakan inginnya bertemu dengan kekasihnya dan disambut manis, ia tahu, perjalanan ini sesuatu yang benar untuk dilakukan.

Whatever will be, will be, God. Sebab, untuk sejauh ini pun, untuk sukacita ini, aku sudah teramat bersyukur.

Tanpa sadar, perempuan itu terus saja tersenyum di balik jendela dalam alat transportasi yang membawanya pulang. Senyum yang lebar. Pertanda hatinya yang bergemuruh dan jantungnya yang berisik karena degupan kencang. Bahkan hamparan awan di balik jendela tampak bak gumpalan kapas putih berbentuk senyuman. Di perjalanan, ia hanya bisa mengucap syukur pada Khalik.

Di ketinggian 35.000 kaki, khawatir sempat berkelebat dalam hati dan logikanya. Bagaimana jika selama ini dia salah? Bagaimana jika, rasa yang tertanam selama ini tidaklah nyata? Bagaimana jika, dan hanya jika, ternyata ia tidak sebegitu sayang pada kekasihnya?

Langit sangat riang ketika ia kembali menginjakkan kaki di bumi. Kota kekasihnya memang terkenal dengan mataharinya yang ceria. Mata memicing dan peluh menitik ketika perempuan itu masuk ke terminal dan menjemput tas yang dikirim dari bagasi pesawat. Jantungnya semakin riuh saja.

Dan semua kekhawatiran yang konyol itu seperti menguap begitu saja ketika ia melangkahkan kaki ke luar terminal dan mengarahkan diri ke sisi kiri terminal. Seketika, ketakutan-ketakutannya menjadi tidak berarti lagi. Di sana, kekasihnya menunggu dengan senyuman dan perempuan itu menemukannya. Maka, alih-alih mengeluhkan matahari yang sangat menyengat, perempuan itu memilih tersenyum balik dan berjalan bersisian bersama kekasihnya.


There’s no more mystery, it is finally clear to me
You’re the home my heart searched for so long
And it is you I have loved all along

Reuni Mini ala SMAN 4

Long weekend di Bandung bisa jadi kutukan sekaligus anugerah. Kutukan karena membuatmu stuck berjam-jam di jalan. Apalagi kalau tempat tujuan liburanmu sama dengan ribuan orang lainnya (baca: Ciwalk dan PVJ). Dan begitu sampai di tempat yang dimaksud, yang kamu dapati ribuan orang itu berkumpul di mall: tertawa, foto-foto, ngopi, (window) shopping, menganalisa tiap orang yang lewat, menikmati hidangan di café, memerhatikan film-film yang lagi diputar di bioskop, dan lainnya. Namun, tidak ada yang bisa menyangkal, long weekend adalah anugerah, yang tidak bisa tiap orang dapatkan. Sementara saya dan beberapa teman dari masa sekolah menengah atas (SMA) berkumpul di Bandung, senior saya ini malah ada di Bekasi. Untuk bekerja. (Now, we can see that life’s not that fair, huh?!)

Saya ini bukan siswa gaul waktu sekolah di SMAN 4 Medan. Tidak begitu banyak yang saya kenal, pun sebaliknya. Bisa dihitung jari lah yang kenal sama saya waktu di sekolahan. Tapi saya tidak pernah kekurangan teman. Saya tidak popular, tapi saya selalu punya teman di sekolah. Sahabat-sahabat saya. Sudah hampir tujuh tahun kami saling mengenal. Dulu, kami tergabung dalam suatu geng ini, namanya, ehemm, (d’oh rada malu menyebutkannya), Nice 9aLz. Kamu boleh tertawa, mencaci, mencela, menghina, anggap itu norak atau apa. Tapi itulah kami dulu: enam cewek SMA, labil, dan last time I checked, setidaknya di angkatan kami, kami cukup dikenal.

Long weekend (28-30 Mei) kemarin menciptakan kesempatan reuni kecil-kecilan geng saya waktu SMA ini. Walau ternyata, yang available, hanya tiga dari kami. Satu orang, meski tinggal di Bandung, sedang ada kegiatan rohani di Lembang sana, jadi tidak bisa ikut. Dua lainnya, setia berada di Medan. Makanya, kami mengajak beberapa teman di luar geng tapi masih sepaham dengan kami, untuk bergabung (many thanks to @felixtambunan for accompany us and @FransForever, yang udah nyempet-nyempetin ketemu padahal lagi gaol sama kru OZradio di PVJ. Hehe.)

Pernah, waktu seorang teman dari sekolahan bilang lagi kumpul sama beberapa alumni SMAN 4, saya berkata begini, “Kita satu sekolahan ga sih dulu? Kok kayaknya aku ga kenal sama orang-orang yang kau sebutkan itu ya?” Pasalnya, saya tak kenal satu pun dari nama-nama yang dia sebutkan, yang sedang bersamanya waktu itu. Saya merasa asing. Pun waktu dia ceritakan beberapa kejadian yang pernah dia alami di sekolah dulu. Padahal kami satu angkatan. Dan waktu kelas 3, kelas kami hanya dipisahkan satu dinding. Bikin saya minder juga karena saya pikir, “Apa saya ini segitu-tak-gaulnya sampai gak kenal orang-orang lulusan sekolah saya?”

Hal itu tidak terjadi di long weekend kemarin. Berkumpul dengan orang-orang yang menjalani masa sekolahan bersama membuat cerita kami sama. Kejadian-kejadian yang diceritakan sama dengan yang ada di memori saya. Begitu juga dengan orang-orang yang diceritakan. Orang-orang yang saya kenal juga. (Eh, ada beberapa yang nggak aku kenal deng. Raja yang dulu dipukulin Riyo di depan IPS karena cemburu itu orangnya yang mana yaa?)

“Nasib” kami pun tak jauh berbeda rupanya. Sama-sama (lebih) kenal dan percaya Kristus di persekutuan kampus, dimuridkan dan memuridkan, jadi pengurus (pelayan) di PMK, dan juga ikut kegiatan-kegiatan rohani. Walau pergumulan sekarang agak-agak berbeda: @juliahutapea sudah punya tambatan hati, sementara saya dan @rentalisa masih bertanya-tanya, “Memang kalau smsin si abang itu dan nanya kabarnya tiap hari bikin aku kayak orang aneh ya?”. Untuk urusan perkuliahan, Moren senang menunda kelulusan demi mencari sesuap nasi dan pengalaman tak terlupakan dengan magang di NGO, Julia masih belum menuntaskan perang antara tugas akhir dengan facebook dan twitter (hehe, peace, juleha). Sementara saya, umm, what can I say, saya belum menyentuh skripsi sama sekali. Masih harus menanti panggilan dari media yang tertarik mencantumkan nama saya di daftar anak magang. Atau kalau besok mereka tidak kasih itu panggilan, saya akan pindah ke lain hati, eh ke lain media yang cukup jelas butuh saya, eh, butuh anak magang.

Percakapan-percakapan dengan teman sekolahan memang selalu menyenangkan. Mungkin ini juga yang Ello dan teman-temannya maksud waktu nyanyiin “Buka semangat baru..” Oase seperti itu yang saya (dan mungkin yang lainnya) butuhkan kala meniti langkah demi langkah di gurun-bernama-kehidupan ini. Saya sih tidak begitu peduli, siapa lebih sukses dari siapa. Yang penting itu niatan untuk berbagi, untuk stay in touch betapa sibuknya dirimu (*lirik @rentalisa*), untuk cerita-cerita tentang orang-orang di sekitar kita supaya kita bisa belajar (iya gak, @juliahutapea?), untuk tidak melupakan apa yang pernah kita alami waktu masih sama-sama labil dulu dan petik pelajaran dari situ, atau sekadar menertawakannya (pastinya @felixtambunan yang paling inget kisah-kisah memalukan di SMA). Dan karena jarangnya, pertemuan-pertemuan seperti yang saya dan teman-teman SMA lakukan kemarin menjadi sangat berharga, tidak mau dilewatkan. Jadi, saya tak akan tarik kesimpulan banyak dari pertemuan kemarin (I keep it to myself. Hehe.), saya hanya akan menanti pertemuan serupa di lain waktu. Semoga ketika saatnya tiba, saya tidak segan-segan membatalkan rencana saya, supaya bisa kembali berbagi dengan alumni dari SMA terfavorit di Kota Medan itu (hahahahaaa…)

30 May 2010 – Apa saya yang salah menilai atau kurang pintar menganalisa ya, tapi menurut saya, kita yang sekarang tidak jauh berbeda dengan kita waktu SMA. Beneran dehh. Apalagi waktu Moren ngambek karena Sabrina tidak nyamperin dia di awal-awal kedatangannya. So immature. Just like high school students, rite? 😉 Tapi itu kan kadang-kadang. Percakapan-percakapan cerdas kita lantas mematahkan pikiran itu kok, teman-teman. 😛

p.s: Jangan sampai lupa ya, seperti yang tidak pernah diharap-harapkan kita malah “terjebak” sama dua MC promosi produk kewanitaan di depan FO dan “terpaksa” nyanyi “Karena Wanita ingin dimengerti..” dengan merdunya (cieh julehaaaa..) sehingga layak dapat goody bag (yang jadinya buat akuh ituh).

Tragedi Robin Hood

“Raise and raise again. Until the lambs become the lions”

Itulah kalimat yang jadi inti dari film Robin Hood yang dibintangi Russel Crowe. Artinya: Jangan pernah menyerah! Russel Crowe memang tidak sembarangan ambil peran. Tokoh Robin the Hood yang dilakoninya sudah melegenda. Namun apa yang ditampilkan dalam film ini berbeda dengan apa yang selama ini kita dengar. Robin sang maling baik hati yang melakukan tindak kriminal untuk membantu yang miskin dan lemah itu sudah bukan jadi kisah usang. Film garapan sutradara Ridley Scott ini menyajikan “the untold legend from Robin Hood”. Saya baru tahu Robin Hood itu hidup di zaman Perang Salib yang “diciptakan” Raja Inggris waktu itu. FYI, Cate Blanchett did the play very well as usual. She is awesomely pretty. Makin tua makin jadi lah, istilahnya.

Sekian tentang film Robin Hood. Postingan kali ini bukanlah resensi film itu, melainkan kejadian kala saya tonton film ini di studio Kelapa Gading. Dan sesudahnya. Karena sama-sama masih single, saya dan abang saya menghabiskan malam minggu berdua. Sejauh ini, saya merasa cukup dengan kenyataan itu. Di Gading sedang ada perayaan Jakarta Fashion and Food Festival (JF3). Kalau biasanya Gading sangat ramai di malam minggu, lebih-lebih waktu saya dan abang saya pergi ke sana, Sabtu (15/05) malam itu. Apalagi di area makan. Terlalu banyak tukang jualan berarti terlalu banyak orang berlalu-lalang menyusuri satu persatu jualan yang disajikan untuk akhirnya memutuskan membeli atau lihat-lihat saja. Pemandangan itu bikin saya pusing. Jujur saja. Apa sih yang membuat orang-orang itu betah berada di tengah keramaian orang yang bak koloni semut di sarang sendiri itu? Too much people makes me uncomfortable. Makanya, saya mohonkan pada abang saya untuk makan di dalam ruangan. Sayangnya, waktu itu Solaria sedang penuh-penuhnya (what a surprise!) sehingga kami terpaksa duduk di area perokok.

Baca lebih lanjut

Hari Melamar

Setelah menunda-nunda sekian bulan, saya membulatkan tekad untuk melamar media-media elektronik di Jakarta. Sejujurnya, saya tidak tertarik magang di media elektronik. Saya lebih suka liputan untuk media cetak. Namun, jurusan tidak akan memaklumi alasan pribadi dan tidak masuk logika itu. jadi, saya, dengan pertolongan dari-Nya, akhirnya datang ke Jakarta dan mengunjungi beberapa stasiun TV untuk melamar mereka. 🙂
Ada tiga media yang saya lamar dalam satu hari ini (Jumat, 14/05). Mereka adalah Metro TV, SCTV, dan Global TV. Jangan tanyakan dulu mengapa saya memilih ketiga media itu. Sejauh ini yang bisa saya pikirkan hanyalah ketertarikan pribadi dan visibilitas untuk datang ke media itu. Ataupun untuk magang di media itu (kalau diterima..).
Pukul 06.20, saya duduk di boncengan motor Abang saya dan melaju ke kantor Metro TV. Dan untuk informasi, kosan Abang saya ada di Rawamangun (Jakarta Timur), sedangkan kantor Metro TV ada di Kedoya (Jakarta Barat). Jadi kalian bisa bayangkan lah, bagaimana salah satu bagian badan saya menderita karena harus duduk di atas motor selama hampir dua jam (rekor baru untuk saya tentunya). Sebelum pukul 08.00 (saya tidak tahu tepatnya), kami sudah sampai di Komplek Pilar Mas. Kantor Metro belum begitu ramai. Parkiran hanya diisi motor di sebagian wilayahnya. Saya tanya satpam, langsung ke resepsionis, menyerahkan surat lamaran saya, minta contact person HRD Metro, dan berdoa supaya kehendak Tuhan yang jadi (diterima atau tidak magang di Metro, kapan waktu yang tepat saya boleh diterima). Saya kembali ke tempat Abang saya menunggu. Dan terjadilah percapakan berikut:

“Kurang apa ya, Abang liat karyawan-karyawan sini,” di tengah-tengah sarapannya, Abang bilang begitu.
“Kurang bagaimana?” tanya saya dengan kerut mengening.
“Good looking sih mereka, tapi kayaknya kurang berkompeten kalau kerja di lapangan,” kata Abang mantap.
Masih dengan kerut mengening, namun lalu seperti mendapat pencerahan, saya berkata, “Well, I’ll prove it. Right,” tersenyum jahil saya.

Kenapa saya bisa tersenyum jahil seperti itu? Begini, dulu, waktu masih magang di Sinar Harapan, saya pernah beberapa kali liputan bareng orang-orang Metro. Dan ya, saya akui mereka cukup oke dari segi penampilan. Dan lagi, sahabat saya, ada yang naksir sama orang Metro. Waktu saya dikasih liat fotonya, saya tidak bisa tidak setuju kalau si orang Metro itu memang ganteng (lucu/cakep/oke). Jadi, kalau Tuhan berkehendak dan saya diterima magang di Metro TV, saya baru bisa kasih komentar, apa pendapat Abang saya itu benar atau tidak. Kan waktu liputan bareng mereka, saya tidak benar-benar bisa menilai banyak tentang kinerja mereka.

Abang saya pun mengendarai motornya, menjauhi Kedoya, dan mendekati Senayan. Selanjutnya, giliran SCTV Tower yang ada di Senayan City yang kami kunjungi. Tidak jauh berbeda proses lamaran itu. Dan saya berdoa dengan lebih gencar lagi. Lalu, seorang teman hubungi saya. Kami janjian ketemu di Senci. Ketika dia datang, saya berpisah dengan Abang saya dan bergabung dengan teman. Lalu terjadilah percakapan ini:

“Na, apa kabar ya kalau kita jadi magang di sini? Ke mall mulu lah pastinya,” kata saya.
Teman saya itu ketawa kecil menyetujui saya. “Iya ya, enak banget pastinya,” kata dia.
“Na, gw pengen deh magang di sini,” kali ini saya ketawa puas.

Untuk yang belum tahu, saya ini bisa digolongkan ke tipe cewek mall. Entah mengapa, saya tidak pernah bosan mengunjungi mall-mall yang ada di berbagai kota di negeri ini (tsahhh..). Setiap saya bepergian ke suatu daerah, pasti saya sempatkan ke mall. Selain mall, jarang ada tempat yang bisa jadi tempat hangout yang asyik buat tempat kumpul bersama teman-teman sejawat. Lagipula, saya dan mall itu seperti sudah ditakdirkan bersama. Bayangkan, waktu liputan di SH dulu, tidak terhitung berapa kali saya ditugaskan meliput di mall. Pun waktu saya ditempatkan di desk Metropolitan, saya ulangi, desk Metropolitan, saya juga diminta pergi ke mall untuk meliput. See?? Tapi kalau menurut kamu, salah bagi saya untuk menjadi cewek mall, feel free to remind me, okay. Karena, pernah sahabat saya tiba-tiba bilang, “Aku ga suka sama mall. Lain kali kalau mau ajak aku jalan jangan ke mall ya.” Waktu saya tanya mengapa, dia bilang, “Gak apa-apa, aku lagi di suatu seminar dan dalam khotbahnya, pembicara ini bilang sesuatu yang buruk tentang mall.” Saya lupa apa sesuatu yang buruk itu. Tapi sampai saat ini, saya menikmati jalan-jalan yang ke mall-mall itu.

Lanjut lagi hari lamaran itu dengan saya dan seorang teman ke Sudirman Central Bussiness District (SCBD). Teman saya mengajukan surat lamaran ke stasiun TV lokal: Jak TV. Dan penderitaan buat kedua kaki yang putih dan mulus ini pun dimulai (hoekkkkk). Kami turun di halte Polda dan setelah tanya-tanya satpam, kami berjalan menyusuri SCBD. Kalian pasti tahu Jakarta itu panasnya meranggas. Kalau begitu, kalian juga seharusnya bisa bersimpati pada kami yang harus menempuh sekitar 2 KM (bahkan lebih) untuk mencapai kantor Jak TV. Setelah surat diserahkan ke front office, kami rehat sejenak menikmati sejuknya pendingin udara di kantor itu. Di luar, matahari lagi ganas-ganasnya. Maklum, posisi matahari tepat di atas kepala (entah kepala siapa). Setelah matahari sedikit jinak, kami memutuskan untuk melanjutkan hari lamaran itu. Di perjalanan, saya lihat karyawan-karyawan keluar kantor dan saya prediksi mereka cari tempat makan untuk siang itu. Dan terjadilah percakapan yang ini:

“Ogah banget ga sih lo kerja di sini. Nyari makan aja musti pake taksi segala. Kalau makan siang sendiri musti naek ojek. Jauh dari mana-mana gini padahal di pusat kota. Bajaj aja kagak lewat,” kata saya menutupi setengah muka dari panasnya mentari.
“Iya, tapi gengsinya itu, lho, Tina. Kan ntar kalau ada yang tanya, ‘Kantor lo di mana?’ Keren aja gitu jawabnya ‘Di SCBD’,” kata temen saya yang bikin saya sedikit kaget.
Kami berdua ketawa-ketawa di bawah matahari di ufuk entah mana itu.

Saya lalu berpikir, “Kok kata ‘gengsi’ itu tidak pernah berkelebat meski sejenak, dalam hati dan logika ya?” Dulu waktu melamar magang di Koran Tempo (Hahh, saya masih belum terima kamu yang tolak saya waktu dulu itu. Huhh. Sekarang nyesel kan? Nyesel kan? Ayo ngaku, nyesel kan? 😛), saya tidak pernah kepikiran gengsi. Memang KT tergolong terpandang, tapi bukan karena itu saya pilih KT. Ketika akhirnya ditolak (via telepon. Hahhh. Ga jantan kamu, KT), saya langsung putar haluan ke SH dan baik-baik saja meski saya tahu SH, katanya, kurang bergengsi. I mean, HARI GINI MASIH MIKIRIN GENGSI? MAU DIBAWA KE MANA ARMADA?? Hehe.

Perhentian terakhir kami ada di kantor MNC. Teman saya melamar Sun TV, sedang saya lebih memilih Global TV. Dari halte Gedung BI, kantor MNC itu terlihat cukup dekat, kawan. Tapi ketika dijalani, betis saya pun semakin mengaduhai. Jauh pisan, kaki saya pegel-pegel tiada terkira karena jalan dari halte Gedung BI ke kantor MNC di Kebon Sirih itu. Dan setelah menyerahkan surat lamaran ke mas-mas resepsionis, teman saya kasih kabar gembira.

“Tina, gw ditelepon SCTV. Tadi SCTV telepon ke rumah, bokap yang angkat. Gw ada interview ama SCTV hari Senin. Wahh, puji Tuhan,” teman saya bilang itu dengan wajah memerah tanda bahagia.
“Wahh, keren. Baru selasa masukin surat udah dipanggil,” kata saya. “Gw juga pengen.”
“Amin amin. Semoga abis ini lo yang ditelepon,” teman saya baik sekali ya mengatakan itu.

Godaan untuk khawatir itu pun muncul. Namun, pagi ini saya diingatkan untuk bersabar dalam menghadapi kesukaran. Sebab, justru dalam kesukaran Tuhan bekerja dan menyatakan kuasa-Nya pada diri manusia. Intimidasi dari si jahat itu dengan lambat tapi pasti mencuat, “Aku kapan dipanggil sama media yang aku lamar, ya Tuhan?” Bersyukur, Tuhan pernah ajarkan ini, dan saya senang bisa mematuhi Tuhan dalam satu hal ini: Segala sesuatu indah pada waktu-Nya dan bersabarlah menunggu waktu yang tepat. Tuhan tidak akan lewatkan saya. Saya percaya 😀

Sekianlah laporan saya selama Hari Melamar ini. Dan waktu saya kicaukan ini di Twitter [Hari Melamar. Keliling Jakarta untuk melamar media2. Terima kasih untuk semangat dari-Mu. Dan darimu juga 😉], seseorang malah kicau balik, “Kapan dilamar?” D’OHHHHHH…..

My dear (8)

Gemintang
awali indahnya cerita
melantunkan rasa
nyanyikan
denting nada dan senyuman
menghadirkan cinta

Resahku menepi indahku bersemi
mengingat utuh bayangmu

Hatiku mengucap kata merindukanmu
Laksana nyata manis nuansa
Dan jika gemintang tiada lagi melagu
Kisahku yang mencinta dirimu
Kan slalu abadi

Rembulan
temani indah malam ini
menyatukan asa
Lukiskan
dekap hangat yang kau beri
mengartikan kita

Gemintang nyanyikan
rembulan lukiskan

(Gemintang – Andien)
My dear,
It’s magical. Aku kirim lirik lagu ini kepadamu. Di JJF ini, aku kembali mendengar lagu ini. Biar Andien yang sampaikan betapa ku merindumu. Tenang. Kali ini bukan rindu yang menyiksa. Umm, sebut saja rindu yang melegakan. 🙂
Semoga bahagia di sana. Sebab, aku dan segala yang ada padaku di sini, tak bisa lebih bahagia lagi 😀

See you, my dear…

P.S: Konsep penantian yang beratus-ratus hari itu terasa konyol sekarang. Baiknya, tidak ada yang menunggu seintensif itu. Let’s live out life, my dear. Love you.