Dear Money…

Salam hangat, pemirsah!

Mumpung masih tanggal segini, saya dan segenap kru Hati dan Logika (yang cuma saya seorang, d’oh!) mengucapkan Selamat Tahun Baru 2012!
Tahun baru (seharusnya) semangat baru, harapan baru, teman baru, pacar baru, dan semakin banyak muncul ide-ide baru yang cemerlang dan bombastis. Ceileh!

Kalau bagi saya, selain kebaruan di atas, tahun baru kali ini juga berarti pekerjaan baru. *tepuk tangan meriah* Oke, gak baru juga sih. Soalnya selama empat tahun belakangan, kerjaan yang sekarang ini sudah akrab sekali dalam kehidupan saya. Ya, benar sekali, saya (kembali) jadi wartawan. Namun, untuk membangkitkan rasa kepo penasaran pemirsah, saya tidak mengungkapkan media tempat saya bekerja saat ini.

Nah, yang menarik dari kantor yang sekarang adalah, tiap hari saya selalu diperhadapkan pada satu pertanyaan krusial. #cieelebay Tiap mau ke kantor redaksi yang berada di lantai dua, saya tidak bisa tidak bertemu dengan satu poster berbingkai yang berisi satu kalimat tanya, “Can Money Buy Everything?

Setiap kali ditanya begitu sama sang poster, saya tak banyak pikir, langsung saja menjawab, “Ya, nggak dong, post!” Bagaimana bisa dengan uang kita membeli semua hal? Semua hal yang kita butuhkan atau tidak. Semua hal yang kita inginkan atau tidak inginkan. Semua hal yang perlu bagi kita atau tidak perlu. Semua hal yang menyenangkan kita atau malahan tidak menyenangkan. Semua hal yang bisa membahagiakan orang lain atau malah menyengsarakan. Semua hal itu tidak bisa dibeli dengan uang.

Tapi percakapan (imajiner) saya dengan si poster tidak lantas berhenti di situ. Si poster bikin saya merenung ketika dia melancarkan peluru-peluru pertanyaan yang ditembakkan ke relung pikiran saya. Kalau uang tak bisa membeli segalanya, lantas kenapa sempat ragu mau kasih persembahan atau persepuluhan untuk pelayanan Allah? Kalau uang memang tak bisa membeli semua hal, kenapa juga tidak langsung kasih pinjaman pada teman yang membutuhkan? Kalau uang tak kuasa membeli semua hal, kenapa tidak menawarkan bantuan uang pada mereka yang datang kepadamu dengan masalah finansial?

Dear Money, all I want you to buy is just... everything!

Atau mungkin saya belum bisa mempertanggungjawabkan jawaban saya kepada diri saya sendiri (dan poster besar itu)?

Berbicara tentang Hati dan Logika

solusi dari kombinasi hati dan logika


Hati dan Logika boleh punya jalan masing-masing. Jatuh cinta boleh disertai tindakan-tindakan konyol, atau ditutup-tutupi dengan beragam teori untuk meredakan gemuruh di hati. Keduanya boleh berada di dua kamar yang berbeda. Kini daku tak mau bersusah-susah mengumpulkan mereka di sisi yang sama.

Tuan Sam dari negeri para penulis boleh berprinsip, sebaik-baiknya penulis ialah penulis yang sanggup memadu hati dan logikanya dan mentransfer isi keduanya menjadi tulisan yang bernas dan menggugah perasaan. Tapi, sepucuk surat cinta yang isinya ungkapan hati semata ternyata bisa membawa sejoli ke pelaminan. Atau kebijakan pemerintah yang sama sekali tak ada hubungannya dengan isi hati, ternyata tetap dijalankan, meski dengan resiko rakyat semakin melarat.

Daku tak meminta Hati dan Logika untuk terus-menerus berjalan beriringan. Kadang ketika mereka berada di persimpangan hingga daku membuat keputusan “simalakama”, daku tak menyesal jika harus mendahulukan salah satu dari keduanya. Dan sebagai perempuan, daku akui, seringnya daku pilih kasih dan memenangkan Hati jika keduanya sedang bertengkar di dalam diri. Toh, Logika tidak lantas marah-marah. “Kau boleh pilih dia, tapi Logika dari orang sebelahmu jangan kau abaikan,” begitu saja Logika pasti berkata.

Bukan hidup yang terlalu berengsek yang membuat daku sempat memaksakan keduanya berada dalam bingkai foto yang sama. Kini mereka boleh punya bingkainya masing-masing, dengan pilihan model atau warna yang berbeda. Itu bukanlah masalah besar bagi daku sekarang ini. Terkadang, perbedaanlah yang membuat kita bersatu, karena kita butuh pelengkap. Jadi, kalau Hati sudah mulai tak masuk akal dan berjalan tak menentu, daku akan melepaskan Logika dari kandangnya. Ia pasti menyegerakan untuk menunjukkan pada Hati jalan mana yang benar. Begitu juga, ketika Logika sedang berlaku buas, akan kukeluarkan Hati dari kotak mungil berwarna merah muda, dan Hati akan membujuk Logika untuk tidak terlalu ganas.

Bagaimana dengan hati dan logikamu, kawan? 🙂

*Gambar dipinjem dari sini.

Kisah Daku di Kota Baru

Alkisah di suatu hari yang cerah, daku mengikuti audisi untuk boleh berpindah ke tempat yang daku idam-idamkan. Mungkin karena tempat itu sangat berharga dan tidak semua orang diperkenankan memasukinya, ada syarat yang harus daku penuhi.

Audisi itu bernama sidang usmas (usulan masalah). Syarat yang harus daku penuhi ialah menyusun laporan Usmas yang isinya tidak lebih dari Bab I Skripsi. Dan tempat yang daku idam-idamkan itu tak lain adalah “Berjuang Menyelesaikan Kuliah”.

Setelah tiga kali mencoba ikut audisi, dengan kekurangan di sana-sini dan semangat yang membuncah karena baru bertambah usia, daku berhasil lolos audisi itu pada Rabu (16/02). Akhirnya, juri audisi, yakni Pak Dandi dan Bu Maimon meloloskan judul skripsi daku dan bersedia membukakan gerbang menuju kota “Berjuang Menyelesaikan Kuliah”. Tapi tunggu dulu, ternyata masih ada “sandi” agar gerbang masuk ke tempat itu benar-benar terbuka. Ini “sandi” yang tidak biasa, karena berwujud lebih dari kata-kata. “Sandi” ini harus dikerjakan dengan referensi dan tambahan materi. “Sandi” ini dikenal juga dengan nama revisi.

Tak mau berlama-lama, daku mengumpulkan revisi dua hari setelah itu (Jumat, 18 Februari). Dan pada Senin (21/02) siang yang indah, Wakil Walikota “Berjuang Menyelesaikan Kuliah” mengumumkan pada daku juru kunci yang akan membantu daku menjelajahi kota yang amat baru bagiku ini.

Sebelumnya, tentu saja daku sudah lapor pada Pemilik Semesta perihal daku yang lulus audisi ini. Dia turut senang dan mengingatkan agar daku tidak usah berbetah-betah di kota ini. “Boleh saja kamu akrab dengan kota ini, anak-Ku, tapi janganlah lekatkan hati dan logikamu padanya. Ingat, ini hanya satu dari puluhan kota yang harus kamu tinggali. Jangan berlama-lama tinggal di situ,” begitu kata-Nya, bijak seperti selalu.

Pemilik Semesta berkata Ia telah menyiapkan dua orang sebagai juru kunci agar aku tidak linglung-linglung amat ketika berjalan-jalan dan mempelajari kota ini. Ketika kutanya siapa, Ia hanya tersenyum dan bilang seseorang akan menyampaikannya padaku.


Baca lebih lanjut

Hello, Mister Bule!

Nak, kita ini orang Indonesia. Ingat itu! Kita musti hormat sama bule yang dateng ke kampung kita. Apa yang mereka lakukan di sini, itu urusan belakang. Kalau mereka mau ke sini, itu udah syukur sekali, Nak!

 

Pernahkah orang tua kita mengajarkan kalimat sesat di atas pada kita? Orang tua mana di Indonesia ini yang memberi nasehat pada anaknya dengan kalimat seperti itu? Tidak ada. Itu pasti jadi jawaban kita.

 

Lalu kenapa, pengelola dan pekerja di tempat wisata tersenyum sangat sumringah kalau yang dateng bukan WNI, meski mereka buang sampah sembarangan dan menyebutkan permintaan aneh-aneh, permintaan yang tak mungkin dikabulkan untuk rekan sebangsanya? Kenapa kita memaklumi turis-turis dari negeri yang tak pernah kita kunjungi untuk hal-hal yang pasti kita cela jika yang lakukan adalah saudara setanah air?

 

Saking ramahnya orang Indonesia mungkin bikin tingkah laku kita seperti mengagungkan orang dari negeri lain. Atau karena jauh di dalam hati dan logika, kita masih terjajah?

 

Nb: Bule belum tentu lebih hebat, haloooooo! Terinspirasi kisah kekasih waktu berwisata ke Tuk-tuk, Samosir dan berlaku sangat baik pada bule. 😛

Kalau Aku Jadi…

Kalau aku jadi presiden, mungkin aku sangat sedih. Bukan karena banyak hal yang kuabaikan demi kepentingan politikku. Aku sedih karena rakyatku tak sayang padaku. Dan terus saja mencemooh sikap prihatinku pada peristiwa-peristiwa yang terjadi di wilayah yang kupimpin.

Kalau aku jadi Menteri (Komunikasi dan Informasi), sudah pasti aku tutup akun twitter-ku. Tapi sebelumnya aku hapus dulu kicauanku yang selama ini hanya bisa bangkitkan emosi penduduk Twitterland dan membuat hari mereka rusak dengan pantunku yang minim rasa seni itu. Eh, aku ini Menteri atau ABG yang baru kenal internet, ya?

Kalau aku jadi anggota DPR, ah, aku tak mau jadi anggota DPR. Membayangkan pun aku tak mau. Siapa sih yang suka terlihat ngantuk bahkan tertidur pulas di layar kaca atau lembaran koran? Siapa juga yang mau ketahuan bolos sama ratusan juta penduduk? Punya tempat kerja yang disatroni artis tahun 70-an untuk menyadarkanku bahwa aku tak pernah bersikap jujur, tegas, dan adil menurutku jauh dari ideal. Entah manusia seperti apa yang mau dibayar berjuta-juta untuk tidak memikirkan kepentingan masyarakat yang notabene jadi sumber penghasilannya.

Kalau aku jadi jurnalis, mungkin aku harus merenungkan lagi apa benar itu panggilanku. Kalau benar, kenapa orang-orang lebih percaya Twitter daripada detik[dot]com? Bagaimana aku menjalankan panggilanku sementara yang kian hari kukerjakan adalah kepentingan si bos yang tujuannya menambah digit di rekeningnya? Bukannya kepentingan masyarakat!

Tapi aku bukan presiden. Dan aku sungguh bersyukur aku bukan Menkominfo dan anggota DPR periode sekarang ini. Aku hanya mahasiswa jurnalistik yang masih punya idealisme. Tahu jelek dan buruknya media massa Indonesia tapi masih punya asa untuk mengubahnya. Bahwa media massa saat ini jauh dari ideal tapi jangan lupa peran besar media massa bagi negara yang pernah berjuang habis-habisan untuk bisa merdeka. Bahwa wartawan zaman sekarang gampang melunturkan idealismenya tapi bukannya tak mungkin mengembalikan masa kejayaan pers di negeri ini.

Dan jika aku membaca tulisan ini beberapa tahun mendatang, bisakah kau mendapatiku tidak berubah menjadi orang-orang yang tidak luhur padahal profesi yang dipercayakan sangatlah agung?

Nb: Kamu mengerti, kan, bukan hanya presiden, menteri, anggota DPR, dan jurnalis yang kuanggap perkerjaan agung. Tiap pekerjaan, jika dikerjakan dengan dedikasi tinggi, menjadikannya profesi yang mulia.

Bukan Hanya Makhluk

Terlalu cetek
Tertawai orang yang bicaranya medok
Mengatai orang yang megrek, karena terus-terusan batuk

Tak perlu terbelalak
Lihat orang penuh intrik
Hanya karena mereka pikir mereka kuasai politik
Dulu mereka pernah baik
Sebelum hidupnya bengkok

Jangan tahan simpatik
Pada ribuan pemogok
Karena jiwa mereka tak mau disogok
Tidak akan mereka terima uang segepok
Sudah bersyukur bisa makan sepincuk

Lakukan sesuatu yang bajik
Pada mereka yang kehilangan emak
Yang tidak lagi bisa dipeluk bapak
Biar bicaranya usah diselingi isak

Pahit obat yang diracik
Sama seperti kritik
Kadang timbulkan gelitik
Tak jarang amarah yang dipercik
Tapi kita jadi terdidik

Kita bukan hanya makhluk
Pelan-pelan boleh merangkak
Asal tetap asah otak
Usahakan hati tetap sejuk
Dan tak ada yang berani labrak lalu bilang kita berengsek

P.S: Berjuang untuk tidak muak pada mereka yang hanya berani menunjuk, mengutuk, mengamuk, dan menggebuk, tanpa pikir dulu sebelum bertindak. Mungkin aku cuma harap keadilan benar-benar tegak. Untuk itu, perlukah negara ini dirombak?:)

I Got iPhone, So What?

“ga nyangka dikasih iPhone sama mamakuh sayang”

Status itu yang terpampang di halaman akun Facebook saya. Tidak. Mama saya tidak memberikan iPhone pada saya. Dan tidak. Saya tidak akan menampilkan status semacam itu di situs pertemanan mana pun. Teman saya ini yang melakukannya. Dia yang utak-atik ponsel saya, coba-coba aplikasi baru, dan muncullah status di atas. Ada embel-embel Facebook for iPhone. Orang-orang makin percaya saja saya beneran punya iPhone.

Tadinya saya mau langsung enyahkan status itu. Tapi lucu juga untuk sejenak menikmati respon, reaksi, tanggapan teman-teman terhadap status itu. Bahkan ada yang menghadiahkan jempol. Entah karena turut senang, atau ingin merasakan hal serupa. Saya tak tahu persis.

Waktu ada yang konfirmasi, saya cuma bisa bilang, “Yang kayak aku ini punya iPhone, mana sanggup? Kalaupun mampu, aku tak mau. Masih banyak orang ga makan di luar sana.” Saya bukannya mendiskreditkan orang-orang yang punya gadget mewah. Saya sendiri bukan orang yang bisa dibilang bersahaja. Tapi yang benar saja, untuk apa iPhone kalau Motorola yang penuh luka sana-sini bisa penuhi kebutuhan? Lagi, apa tampang seperti saya ini cocok bawa-bawa barang merk bule begitu? Udah sukurrr bisa hidup berkat gaji PNS yang sempat ngalamin gali-lobang-tutup-lobang.

Saya tidak lantas melenyapkan status itu. Sebab, saya pikir dari situ bisa tahu, yang mana yang benar-benar kenal saya sehingga tidak tertipu. Saya jadi sadar, orang-orang gampang terkagum-kagum begitu tahu kenalannya punya perkakas elektronik yang glamor. Saya belajar untuk tidak menilai orang dari barang yang digenggamnya (kalau saya punya iPhone, saya yakin tak lantas jadi orang yang lebih perhatian, lebih peduli sama sekitar). Juga, saya diingatkan supaya tidak langsung heboh melihat teman punya barang oke. Bisa saja seperti saya, itu cuma guyonan yang diciptakan seorang sahabat. Atau, cuma pengen pamer. Dan saya tidak mau beri dukungan pada orang yang pamer.

P.S: Thank you Grace for making such sensation 🙂 *cup cup kecup* Dan buat yang udah kasih komen di situ, tenang saja, aku tahu kok kalian cuma turut senang. 😛