Jokowi masih ada cacatnya iya. Tapi menurut daku, pasangan Jokowi-Ahok yang mendekati bagus karena sudah punya pengalaman, bukti, dan bersih. Daku sendiri masih mengusahakan kartu pemilih dan semoga besok ada kesempatan untuk nyoblos. Yang paling penting dari semua ini adalah #JanganPilihFoke. Mending pilkada 2 tahap tapi demi pemimpin yang bener daripada 1 tahap tapi yang menang Foke. Ada harga mahal untuk perubahan. :’)

ve handojo

Pertimbangan gue tentang JokoWi simple saja: Sudah ada bukti nyata. Solo adalah kota yang nyaman banget buat warganya, dan juga buat pengunjung seperti gue sendiri.

Gue ngga banyak paham tentang politik. Tapi satu hal yang gue tahu pasti: Politik itu selalu berubah. Nah, buat gue sebagai warga, silakanlah politik berubah-ubah, silakan saja tokoh A ke partai B terus pindah ke partai C, dan seterusnya, tapi yang penting kota gue punya transportasi umum yang layak, fasilitas publik yang nyaman, dan pedagang kecil bisa punya wadah yang tertata seperti di Galabo, Solo.

Solo memang kota yang skalanya jauh lebih kecil daripada Jakarta. Keberhasilan JokoWi di Solo mungkin ngga menjamin keberhasilan dia di Jakarta. Tapi, lagi-lagi gue pakai matematika yang sederhana saja: Dari semua calon, yang punya portfolio penataan kota yang baik hanya JokoWi.

Ini cuma tulisan singkat karena kalau gue ngecap di Twitter nanti jadi kayak kultwit, jadi mending ngecap di…

Lihat pos aslinya 90 kata lagi

Justin Bieber and Random Country

Have your heard that Justin Bieber called Indonesia as “some random country”? What? You feel offence? Angry? Hahaha. Silly you! Let me tell you this:

If a small thing has the power to make you angry, does that not indicate something about your size? ~Sydney J. Harris

From gossip the news I read, Justin created a song when he visited Indonesia couple of time ago. And when he went back to the State, he told his fans, “I created the song in some random country. They dont even know what they’re doing.” By random country, he meant, Indonesia.

Okay. Just because some random singer call our country “random”, doesnt mean we have to feel offence, or even angry.

No, this is not Justin Bieber!

For example, if I ever go to, let say, Liechtenstein or Eritrea and make a poem or song lyric in that country, will I say to my fans friends here that I created it in some random country? Of course not. I’m not some labil teenager who dont even appreciate place he ever visited before. Justin Bieber created some thing that he’s gonna “sell” to the world and he mentioned that he created it in some random country? I am not mad. I am completely understand. JB is a teenager, feel proud of what he produces (pfftt), and we make a big deal about his comment? Oh come Indonesia, you can do better.

And this issue become sillier when our random singer, Syahsuatu, ask Bieber to apologize to Indonesia for his comment. Hahaha. A radio station in Medan banned Bieber in their playlist. *laugh together forever And, a school in Jakarta forbid its students to put Bieber’ songs on their playlist. Hahahaaa. ROTFL.

You may not a great country, Indonesia, just not yet, but you are hillarious. :)))))

 

Not Bieber again!

Semangat Move On

Kebanyakan orang ketika mendengar kata “move on” mengartikannya sebagai fase hidup ketika seseorang yang baru putus cinta, bisa melanjutkan hidupnya tanpa mengungkit-ungkit masa lalu bersama pacar. Ada benarnya. Tapi tidak selalu seperti itu.

 

Saya tahu benar dengan istilah ini karena pengalaman sahabat saya yang mengaku move on itu sangat susah. Kekasihnya yang dulu sepertinya membawa kesan yang mendalam sehingga sahabat saya itu sulit melanjutkan hidup tanpa menempel pada masa lalu.

 

Bagi saya, move on itu beranjak dari masa lalu dan tidak bersungut-sungut atau mengasihani diri ketika mengingatnya di masa sekarang. Hal-hal indah yang kita alami dulu hanya indah pada dulu kala. Kalau kita terpaku pada ingatan itu dan menginginkan keindahan yang sama terjadi sekarang, itulah yang saya sebut, gagal move on.

 

Kalau kaitannya dengan pengalaman sahabat saya, tentulah dia tidak perlu menghabiskan waktu mengenang yang manis-manis di masa lalu dan melebih-lebihkannya sekarang hingga terasa pahit. Gampang sih bilangnya, tapi melaksanakannya susah sekali. Nangis seribu malam dan curhat di media sosial mana pun takkan sanggup bikin seseorang move on.

Meski saya tidak punya mantan pacar (kayanya sih :D) tapi saya pun perlu move on. Semua orang perlu move on. Masa lalu, seindah apapun itu, kalau terlalu sering diingat akan menjadi pahit. Masa-masa SMA yang dulu sangat membahagiakan bisa terasa menyedihkan kalau kita sadar kita tidak bisa bertemu lagi dengan teman-teman SMA kita. Atau kalau bertemu pun kita tidak seakrab yang dulu. Tidak bisa ketawa cekikikan untuk hal kecil yang dulu kita anggap konyol.

 

Momen yang sangat indah seperti wisudaan pun terasa kelam karena kita baru sadar itu jadi gerbang yang membawa kita pada tempat baru yang jauh dari kata nyaman. Momen indah bersama pacar memang bikin kita senang waktu dulu, tapi kalau sudah putus, momen itu lebih menyakitkan dari ditusuk jarum suntik seratus kali. #yahlebay

 

Sebagai seorang Kristen, saya tak pernah menyangka ada firman Tuhan yang tegas-tegas menyuruh kita untuk move on. Lah, memangnya umat Kristiani jaman dulu mengalami putus dari pacar dan susah move on? Mungkin iya, tapi kondisinya tidak seperti jaman sekarang pastinya.

 

Tadi pagi di saat teduh saya dikasih ayat dari Yesaya. Isinya semacam #jleb gitu deh buat saya.

 

“Janganlah ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala. Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya?” ~Yesaya 43: 18-19

 

Wow, apa-apaan itu? Saya kan tidak baru putus dari pacar. Awalnya saya nggak ngerti kenapa Tuhan bilang begitu sama saya. Tapi begini, sejak LDR saya akui saya sangat labil dan marah sama keadaan. Saya mendambakan saat-saat seperti dulu ketika saya bisa bertemu patjar hampir setiap hari. (Sekarang dengan jarak Jakarta – Makassar, hal itu tidak berlaku lagi.) Dengan kata lain, saya belum move on. Belum bisa berdamai dengan keadaan jauh-jauhan begini. Kasihan memang saya ini. Makanya saya sangat bersyukur pagi ini bisa mendengar kebenaran indah yang Tuhan nyatakan.

 

Dengan ini juga saya menyerukan semangat move on bagi pemirsah di luar sana yang masih memenggam erat-erat masa lalu dan membawanya ke tiap tempat ia pergi. Dan sekali saya tegaskan, masa lalu ada untuk dingat, bukan untuk diingat-ingat. :’)

Sehari Kenyang di Bogor! :D

Perhatian, perhatian! Postingan kali ini panjang sekali dan bisa bikin kamu lapar, jadi waspadalah yaaa! 🙂

Sudah ribuan kali rasanya, saya mengungkapkan keinginan untuk berkunjung ke Bogor. Tapi, baru beberapa hari setelah merayakan ulang tahun, saya dan patjar berkunjung ke kota hujan itu.

Kami berangkat pagi-pagi sekitar jam 8. Naik bis Transjakarta ke Cawang dan kami pun melaju dengan kereta commuter line menuju Bogor. Tujuan utama adalah indehoy wisata kuliner.

Terima kasih pada kecanggihan mbah Google sehingga setelah browsing sana-sini, menetapkan makanan apa saja yang mau dicoba, saya puas mengelilingi Bogor. Dan tentu saja, tak perlu banyak bertanya soal arah atau lokasi karena ada Google Maps di ponsel pintar si patjar. Dalam daftar, ada macaroni panggang, pizza meteran, apple pie, dan coklat dari Death by Chocolate yang ingin kami nikmati.

Kami tiba sekitar pukul 10.30. Belum ada tanda-tanda hujan tapi Bogor memang terasa sejuk. Tempat pertama yang kami kunjungi Jalan Salak. Menurut info yang saya dapat dari Google, di jalan itu ada macaroni panggang yang enak. Namun, saya salah tempat sepertinya. Tadinya mau ke tempat ini, tapi karena duluan ketemu Salak Schotel Huis Resto, ya jadinya dadahdadah sama MP deh. Menyesal? Pastinya, tidak. Karena macaroni panggang yang kami pesan di sini juga enaknya bukan main. Saya pesan Macaroni Schotel Italiano yang di dalamnya ada Smoked Beef (daging sapi asap), Minced Beef (daging giling), Sausages (sosis sapi), Edam Cheese (keju tua), Cheddar Cheese (keju), Cream Cheese (saus keju), UHT Milk (susu cair). Kejunya terasa banget. Makanan ini cocok sekali disantap dengan udara Bogor yang dingin karena disajikan hangat. Oiya, harga satu porsi macaroni ini cukup mahal sih kalau kata saya, yaitu 39 ribu rupiah. 😀

yummy macaroni schotel :-9

 Salak Schotel Huis Resto

Lokasi: Jalan Salak no. 30 Bogor

Jam buka: Senin – Jumat 10.00 – 21.00; Sabtu 10.00-22.00; Minggu 10.00-21.00

Perut kenyang dan hati pun senang. Ya, benar sekali. Walaupun satu porsi macaroni itu dilahap oleh kami berdua, ternyata tetap mengenyangkan. Tadinya mau langsung menikmati Pia Apple yang terkenal itu, tapi sayang perut berkata lain. Akhirnya kami jalan kaki dari Jalan Salak menuju Jalan Pangrango. Dekat sekali ternyata, pemirsah. Tapi, jalanan kota Bogor sepertinya tidak bersahabat dengan pejalan kaki. Jarang sekali ada trotoar yang layak injak alias nyaman untuk pejalan kaki. Jalanan di Bogor yang kecil sepertinya tidak memerhatikan kenyamanan pejalan kaki. Sayang sekali, padahal Bogor termasuk kota kecil dan dengan rute angkot yang “beda” (beda rute pergi dengan rute pulang), jalan kaki pasti sangat sering dilakukan. Nah loh, curhat deh.

Baca lebih lanjut

Dua. Tiga.

Disclaimer: Postingan ini bersifat sangat pribadi. Jadi, kalau kamu sedang sibuk di kantor dan entah mengapa bisa membuka blog ini, silakan saja melanjutkan kesibukanmu. Atau kalau kamu sedang iseng saja mengetikkan alamat blog ini di salah satu tab di browser-mu, percayalah, waktumu lebih berharga jika membaca blog orang lain.

 

Dua. Angka itu begitu sempurna kalau kuhadapkan pada kamu yang sering merasa sendiri. Kamu begitu benci angka satu karena ia berdiri seorang diri. Tak ada siapa-siapa di sisimu untuk menemani. Angka dua itu lengkap, katamu, makanya ia selalu bikin iri pada yang menyendiri. Dua tangan, dua kaki, dua bola mata, dua hati. Tidak ada lagi sendiri. Dua bikin hidupmu tidak begitu sepi lagi.

Kamu bertemu angka dua ketika kamu benar-benar menikmati menjadi seorang diri. Setelah berlelah-lelah menunggu, kamu pastikan dirimu berdamai dengan sendiri. Toh, kamu jadi belajar untuk bisa mandiri. Hidup memang begitu, penuh kejutan yang penuh arti. Kamu terkejut-kejut ketika ada dia yang melengkapi hidupmu justru di saat kamu tidak lagi marah pada kata “sendiri”.

Tiga. Angka itu begitu supernatural ketika kamu ingat tentang Trinitas. Tritunggal Allah, Anak, dan Roh Kudus. Begitu juga tiga persembahan yang dibawa untuk bayi Yesus oleh orang majus. Kamu pun tak bisa lupa pada angka tiga lainnya yang tertera dalam kitab Kudus. Sebelum ayam berkokok, tiga kali Petrus menyangkal Yesus. “Yang sudah ada, yang ada dan yang akan datang”, puji makhluk sorgawi tentang Tuhan dengan tiga kata kudus.

Tiga juga mengingatkan bahwa dua yang kamu kira lengkap, ternyata tidak begitu. Apalah kalian berdua jika tidak ada tempat mengadu. Akui saja kalian sempat belagu. Sama-sama merasa yang ketiga itu tidak perlu. Bersyukur karena kalian bertobat, tak usah lagi kuungkit yang dulu-dulu. Jangan sampai tulisan ini jadi terasa syahdu.

Selamat Dua Tiga!

Lalu hadirlah dua tiga. Dua puluh tiga, tegasmu. Keduanya dipakai Beckham di suatu masa, jadi nomor di punggungnya sementara ia mencetak prestasi. Pepatah pun menyebut-nyebut angka ini. Katanya, sekali mendayung dua tiga pulau bisa terlewati. Ah, sudahlah, kamu yang paling tahu bagaimana pepatah itu bekerja dalam hidupmu.

Ada juga ayat yang menyebutkan di mana dua-tiga orang berkumpul, di situ Ia hadir di tengah-tengahnya. Ya, kamu tak pernah meragukan Ia hadir bersamamu. Meski kadang kamu lupa dan harus kembali buka lembaran kenangan. Supaya ingat sejarah-Nya dalam hidupmu.

Ah, itu sih kamu saja yang bikin angka-angka itu spesial. Tapi kamu memang suka mengistimewakan hal-hal. Being normal is a total bore, seingatku kamu pernah bilang begitu. Itulah yang bikin kamu juga istimewa.

Akhir kata, selamat menikmati dua dan tiga. Dua puluh tiga pasti penuh tantangan. Dua puluh tiga bahkan dimulai dengan kangen yang menggunung. Dua puluh tiga membuat kamu berpikir banyak tentang masa depan. Satu yang perlu kamu ingat, dua puluh tiga tidak akan bisa dilewati sendiri. Kamu punya tempat bersandar, jangan cuekin Dia. Kamu punya tempat penghiburan, datanglah pada-Nya tiap saat.

 

Selamat dua puluh tiga untukmu!

Thank God for best friend(s)! *hugs*

Eben Haezer

Dear Dunia,

Kami hanyalah pecahan-pecahan mozaik kecil yang mewarnai dirimu. 7 milliar jumlah kami, tersebar di ratusan ribu pulau dan 5 benua. Banyak di antara kami yang dikenangg dan tak terlupakan, namun tak sedikit pula di antara kami yang terlewatkan, berlalu tanpa jejak diceritakan. Namun ada satu mozaik berharga yang ingin kuceritakan padamu, Dunia, agar kau tak begitu saja berlalu tanpa merekamnya dalam ingatanmu. Nama mozaik itu adalah Marantina.

Aku bertemu dengan potongannya ketika kami duduk di bangku SMA. Kulitnya yang putih dan rambutnya yang keriting jauh berbeda denganku yang bewarna kecoklatan dan berambut lurus. Tak hanya perbedaan artifisial, kami pun berbeda sifat dan kegemaran. Aku yang sensitif namun periang, bertemu dengannya yang melankolis dan berbibir tajam. Ya, upaya pencarian eksistensi diri kami di masa-masa muda memang agak-agak kejam. 😀

Dalam semua ketidakcocokan dan perbedaan, ada satu lem yang mengikat kami berdua: geng Nice Galz. Labil bukan? Ok Dunia, kau…

Lihat pos aslinya 439 kata lagi

Midnight in Paris (Movie Review)

“All men fear death. It’s a natural fear that consumes us all. We fear death because we feel that we haven’t loved well enough or loved at all, which ultimately are one and the same. However, when you make love with a truly great woman, one that deserves the utmost respect in this world and one that makes you feel truly powerful, that fear of death completely disappears. Because when you are sharing your body and heart with a great woman the world fades away. You two are the only ones in the entire universe. You conquer what most lesser men have never conquered before, you have conquered a great woman’s heart, the most vulnerable thing she can offer to another. Death no longer lingers in the mind. Fear no longer clouds your heart. Only passion for living, and for loving, become your sole reality. This is no easy task for it takes insurmountable courage. But remember this, for that moment when you are making love with a woman of true greatness you will feel immortal.”

~ Ernest Hemingway

Saya tidak bisa membayangkan betapa beruntungnya Gil (Owen Wilson) dalam film “Midnight in Paris” bisa bertemu langsung dengan pengarang Ernest Hemingway. Mendengar bagaimana gaya bicara Hemingway yang tidak jauh berbeda dengan gaya bahasa di novel-novelnya, bahkan disemangati untuk meneruskan novel yang sedang dikerjakan Gil, sungguh di luar imajinasi saya.

Banyak penulis atau artis (seperti saya) merindukan untuk perjalanan kembali dalam waktu untuk mendesis Paris dari tahun 1920-an, mencicipi kebersamaan dengan Hemingway di Les Deux Magots atau makan di Choucroute Garnie dengan Picasso di La Rotonde. Namun, hanya Woody Allen yang bisa mewujudkan imajinasi itu. Setidaknya melalui “Midnight in Paris”, Allen menunjukkan kepada kita bagaimana rasanya bertemu dengan seniman-seniman besar seperti Hemingway,  F. Scott Fitzgerald, Zelda Fitzgerald, Salvador Dali, T.S. Eliot, Djuna Barnes, Josephine Baker, Man Ray, Henri Matisse, dan masih banyak lagi. Baca lebih lanjut