two thousand and twelve

start contract with this media. suddenly journalism all over again. learn that so many things to learn. made new friends with “perjuangan” label on it. almost leave but didnt have the courage to leave.

long distance relationship again and again. boyfriend moved to makassar. i’m staying. too many wonderful things between us, yet disapointment, fights, and almost-breaking up never stop haunted us.

my brother got married. I introduced the wife to him last year, remember? they got pregnant two months ago. I’m soon to be a “bou”.

daddy’s got better after my brother got married. but God loved him so much He ended his pain. daddy went to heaven. I have this huge hole inside my heart somehow.

faith level is decreasing. absolutely my faults. God keep saying He’s not done with me. and here I am.

Iklan

Jauh Banget tapi Deket Banget

Hai sayang, bagaimana ya aku harus memulai surat ini? Aku gak mau basa-basi. Aku kangen kamu, kamu pasti tahu. Dan aku juga tahu banget kamu kangen aku. Tapi ini bukan surat kangen. Ini surat cinta. 😀

Baru seminggu kita dipisahkan oleh satu Surat Keputusan (SK) dari pemerintah. Mereka ambil kamu dari sisiku, dan tempatkan kamu di Makassar nun jauh di sana. Aku gak pernah ke Makassar. Meski beberapa temanku berasal dari situ, tapi aku gak kebayang bagaimana sesungguhnya kota itu. Katanya, mahasiswa di situ doyan tawuran. Semoga kamu gak ikut-ikutan ya, sayang. Kamu kan bukan mahasiswa lagi. #dijitakmanja

Aku tahu SK itu memberatkan hidup kita yang sebelumnya pun tidak mudah. Baru saja aku diterima kerja di media idaman tapi kamu malah dimutasi ke pulau lain. Sulit untuk tidak mempertanyakan mengapa harus begini. Tapi kita sepakat, karena kita ini ciptaan Allah yang diciptakan untuk kemuliaan-Nya, tidak seharusnya mempertanyakan rancangan Allah. Kita juga tahu semuanya terjadi untuk masa depan yang baik, bukan untuk mencelakakan kita.

Long distance relationship bukan sesuatu yang baru bagi kita. Tapi setelah setahun bersama, ketemu hampir tiap hari, menjalani LDR yang kedua kalinya lebih berat dari yang pertama. Berat karena perubahan drastis terjadi di hubungan kita. Sekarang, kalau mau saling menguatkan (dan sayang-sayangan) cuma via telepon genggam dan internet. Sedih? Seringnya begitu. Tiap malam rasanya mau nangis membayangkan hari ini gak ketemu kamu, pun besok begitu. Tiap hari bilang kangen, tapi hati ini tak terpuaskan. Tiap hari menyatakan “Coba aja kamu ada di sini!” tapi tak mau membohongi diri lebih lanjut. Eh, kok kayanya kita gak bahagia gitu ya? 😛

hai, kamu lagi apa, sayang? :)))

Aku selalu ingat kata-katamu, kita lah yang memilih bagaimana berespon terhadap keadaan. Mau sedih atau bahagia, mau mengutuki atau bersyukur, itu semua pilihan kita. Kata-kata itu seringnya menyelamatkanku. Ketika mata mulai basah karena rindu kehadiranmu, aku pilih untuk bersyukur. Toh kamu hanya pindah kantor, bukan pindah ke lain hati. Ketika dada mulai sesak karena ingin sekali ada kamu di sampingku, aku pilih untuk tersenyum. Toh, kamu di sana juga sangat merindukanku dan aku gak pernah sendiri. Jarak kita mungkin 1413 km jauhnya, tapi tidak ada spasi antara hati kita. 🙂

“Distance is not for the fearful, it is for the bold. It’s for those who are willing to spend a lot of time alone in exchange for a little time with the one they love. It’s for those knowing a good thing when they see it even if they dont see it nearly enough.”

Jadi, mari terus bersyukur untuk kesempatan berjauh-jauhan seperti ini. Aku di sini dan kamu di sana, tapi kita bisa sama-sama bertumbuh. Kita ini istimewa, makanya dipercayakan untuk hubungan jarak jauh. 😀 #selfpukpuk

Seminggu telah berlalu dan aku terus merindukanmu. Aku sayang kamu, meski tak selalu bertemu. Menginginkanmu selalu di sisi, aku tak jemu-jemu. Tapi hingga saat itu tiba…

#30HariMenulisSuratCinta Surat Cinta ini Teruntuk Kekasih Jarak Jauhku, @roniokto. Kekasih yang jauh sekaligus amat dekat. 🙂

Bersukacitalah. Bersyukurlah. Bersabarlah.

Kamu masih merasa semua ini adalah mimpi. Mungkin karena kamu memang demen tidur. Jadi, kamu pikir ini hanya salah satu dari sekian bunga tidur yang kamu lihat. Toh, dalam kenyataan, mimpi ini pun pernah mampir dalam tidurmu. Meski kemudian kamu menafikannya dan bilang pada dirimu bahwa mimpi itu takkan bisa jadi kenyataan.

Kamu masih merasa semua ini adalah mimpi. Padahal, jelas-jelas kamu memegang tiket yang membuatnya bisa terbang dengan burung logam itu. Padahal kamu sendiri yang bilang padanya, “Jangan lupa masukin dokumen penting, hanger, kalender, dan sepatu ke dalam koper ya, sayang!” Tapi kamu masih saja marahin dirimu sendiri lalu tegaskan bahwa ini adalah mimpi. Padahal, kamu sendiri yang menemaninya saat mengantarkan sepeda motor untuk dipaketkan ke pulau nan jauh di sana. Tidak hanya itu. Kamu juga yang bersamanya di bandara sebelum dia dibawa terbang meninggalkan ibukota.

Ah, kapan sih kamu bangun dan sadar bahwa ini bukanlah mimpi. Ini senyata-nyatanya kenyataan. Kamu harus berani katakan itu pada dirimu sendiri. Kamu tidak lagi bisa meraih tangannya untuk mengisi sela-sela jarimu. Tidak sekarang. Kamu tidak bisa begitu saja kirim pesan padanya untuk muncul di depan kantor dan mengantarkanmu ke peraduan. Sampai waktu yang belum tahu kapan, kamu tidak bisa menggandengnya ketika jalan di mall. Jalan ke mall bareng dia pun belum bisa.

Aku tahu ada sesak yang membuatmu sulit bernafas. Sesak yang memicu matamu berair dan pipimu basah. Sesak yang bikin kamu sampai pusing dan mual. Sesak yang tak pernah kamu rasakan, bahkan saat harus meninggalkan kampung halaman demi kehidupan yang kamu impikan. Sesak yang menyesakkan.

Aku tahu kamu ingin sekali mengurungnya di suatu tempat sehingga dia tidak harus berangkat ke kota Angin Mamiri itu. Mungkin kamu bisa menahannya sehari atau dua hari. Tapi, pemerintah pasti minta kamu melepaskannya. Pemerintah butuh dia. Ada satu kursi di KPDDP yang hanya dia yang bisa mengisinya.

Aku mengerti betul bagaimana ketakutanmu. Bukan takut dia tidak bisa setia. Bukan takut ada seseorang lain yang membuatnya berpaling. Bukan takut kamu meragu dan memikirkan seseorang yang lain. Bukan takut yang seperti itu. Takut karena dunia tampak kelam setelah kamu menyaksikan dia melambaikan tangan dan kamu hanya bisa melihat punggungnya menjauh. Langit yang kelabu saat itu pun terlihat cerah dibandingkan suasana hatimu. Apakah di balik kekelaman itu?

Segala sesuatu yang terjadi di dunia berada di bawah otoritas Allah. Kalau dia terpilih untuk merintis KPDDP, Allah tahu itu. Kalau dia harus ke Makassar dan meninggalkanmu di Jakarta, Allah sendiri yang merencanakan itu. Mungkin Allah memang sedang mematahkan semua peganganmu di dunia. Hingga kamu bisa benar-benar belajar untuk menggantungkan diri hanya pada-Nya. Lantas, bagaimana kamu tidak bersukacita karena itu semua? Ya, bersukacitalah. Bersyukurlah. Bersabarlah.

Jadilah kehendak-Mu. Seluruh bumi penuh kemuliaan-Mu.🙂