the One who Being Left…

…is me. Yeah. I’m in mourning period. This is because two of my office mates are gonna leave the country for taking their master degree. And two of my ‘sisters’ are gonna leave kosan. One is because she’s getting married. And another one is because she has to work in Kalimantan.

People always leave

Oh gosh, this is so sad. I’m still wondering, why am I the one who being left? Why the people I love and I like so much has to leave me? Is this some kind of curse or what? Because honestly I dont really make good friends in Jakarta. Most of my best friends live outside Jakarta. Hell, my boyfriend left for Makassar. And now those who are still live here have to go? Me hates it.

And then the good Lord tell me this (via Henri Nouwen):

Every time we make the decision to love someone, we open ourselves to great suffering, because those we most love cause us not only great joy but also great pain.   The greatest pain comes from leaving.  When the child leaves home, when the husband or wife leaves for a long period of time or for good, when the beloved friend departs to another country or dies … the pain of the leaving can tear us apart.  

Still, if we want to avoid the suffering of leaving, we will never experience the joy of loving.  And love is stronger than fear, life stronger than death, hope stronger than despair.  We have to trust that the risk of loving is always worth taking.

 

Guess I have to remind myself many times, that loving (someone) means hurting (myself).

 

 

 

 

*picture credit

Iklan

Bye-bye and Welcome TPPM :)

Sebelumnya, aku tahu kamu
Sekarang aku lebih mengerti tentangmu
Sebelumnya, aku tahu apa yang membuatmu senang
Sekarang, aku bisa memahami kesedihanmu dan menangis bersamamu

Maaf karena tidak bisa bilang ini langsung sama orang-orang yang kumaksud. Sebut saja aku melankolis, tapi memang aku tidak mau kemesraan di TPPM berakhir. Tapi itulah kenyataan. Masa kepengurusan telah usai dan kalian melanjutkan pelayanan di tempat lain. Berbeda denganku (dan Kak Nevi) yang masih harus berurusan dengan pengurus-pengurus PMK-PMK kampus di Jatinangor.

Aku tak tahu bagaimana ritme kepengurusan selanjutnya. Setahun yang lalu aku tak berharap banyak dari TPPM tapi Tuhan kasih aku orang-orang terbaik dalam pelayanan. Dewasa, tak menghakimi, peduli, rela berkorban, pengertian, dan tidak ragu berbagi. Kalian tak akan terganti. I should ask God for more.


Beberapa bulan yang lalu waktu TPPM optimis aku lanjutkan kepengurusan, logikaku tolak mentah-mentah. Tapi aku sengsara sedemikian rupa sehingga tidak mau lari dari panggilan. Tidak mau seperti Yunus yang ditelan ikan besar dan mengecewakan Sang Empunya Pelayanan.

Sempat bingung sekali karena aku tidak menargetkan pertengahan 2011 terima gelar sarjana. Tapi aku sudah ambil komitmen dan biar Dia yang kasih jalan keluar padaku nantinya.

Aku tidak bisa menjanjikan TPPM selanjutnya akan jauh lebih baik. Yang penting, aku tidak mengulang kesalahan. Dan kumohon ingatkan aku untuk satu hal ini.

Bagi kalian ini sudah berakhir,
Biarkan aku kembali mengawali.
Bagi kalian, pekerjaan sudah selesai.
Tapi aku mau mulai lagi.


P.S: TPPM adalah bagian dari sejarah hidupku, begitu juga kamu: Merlyn, Clara, Bang Suandi, Bang Beni, Kak Ika, dan Kak Nevi. 🙂 Love you, guys. I really do.